Aku adalah aku di mana pun tempatku berada.
Berusaha menjadi diri sendiri di tengah-tengah omong kosong para pembual.
Hidup terasing di tengah kecintaan para ekstrimis pada dunia.
Yang melupakan rasa di dalam lubuk hati dan naluri untuk selalu berkata jujur.
Terbalut rapat hedonisme yang telah
menjadi santapan sehari-hari dan kebohongan-kebohongan yang meluncuri
bibir dari waktu ke waktu.

Manusia hidup dalam kebohongan, demi menutupi hawa nafsu brutal
untuk menghancurkan. Menghancurkan segala, mulai dari kehormatan diri
hingga segala kekayaan hati. Sampai-sampai tak ada yang tersisa kecuali
setetes embun di tengah lautan tinta. Hati telah menjadi batu karang
yang menutupi dirinya dengan lumut. Seolah-olah berani menerjang ombak
besar nan perkasa. Padahal dirinya hanyalah seonggok bebatuan tanpa
arti yang ditinggal pemiliknya.
Pemilik yang
akan selalu kekal abadi. Pemilik yang menciptakan segalanya dari
sesuatu yang hampa. Yang selalu berdiam di tempatNya tanpa membutuhkan
suatu apapun. Yang mataNya tajam menembus benteng kehormatan palsu yang dibangun para pengecut. Yang telingaNya sanggup mendengar bisikan-bisikan najis para pendusta. Yang tanganNya
menggenggam segenap hati makhluk tanpa terkecuali dengan tenang. Namun
mengapa, si buta tuli nan pincang berani menantang si Perkasa tak
terkalahkan. Saksikanlah bahwa ini hanyalah kerusakan yang nyata.
Tak ingin suatu apa kecuali tergeraknya daun pintu hati dari
tempatnya. Menghembuskan nafas-nafas keagungan kepada kuali besar yang
penuh dengan dosa. Meneteskan buih-buih kesyahduan dalam harum nafas
pemimpin jiwa. Menggerakkan ruh-ruh suci kita ke tempat yang
semestinya. Kosongkan hati dari segala perangkap penuh marabahaya,
tetapkan tujuan hidup dengan pikiran yang jernih, gariskan jalan lurus
menuju tempat yang didambakan, ikatkan hati pada tiang-tiang pancang
perjalanan, jangan pernah bergeming walau ribuan topan datang
menerjang, tetap tenang walau berbagai duri menusuk dari kiri dan
kanan, hingga sampainya kita ke tempat yang tak ada lagi kenikmatan.
Berganti dengan sesuatu yang tak akan mengingatkan kita pada dunia,
yang telah merenggut hati, kehormatan, dan jiwa besar, para keledai
dungu nan terbungkus hawa nafsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar